Program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) memang menjadi harapan besar bagi pasangan yang ingin memiliki buah hati. Sayangnya, perjalanan ini tak selalu mulus. Salah satu kendala yang cukup sering terjadi adalah embrio yang berhenti berkembang sebelum mencapai tahap blastokista, yaitu fase di mana embrio siap ditanamkan ke rahim.

Kondisi ini dikenal dengan istilah embryo arrest. Banyak penelitian menunjukkan bahwa sebagian embrio hasil IVF memang tidak mampu bertahan hingga tahap tersebut, dan salah satu biang keroknya adalah kelainan kromosom. Namun, ada juga faktor lain yang turut berperan. Berikut ulasannya:

Kelainan Kromosom pada Embrio

Penyebab paling umum embrio gagal berkembang adalah aneuploidy, yaitu kondisi ketika jumlah atau struktur kromosom tidak normal. Embrio dengan kelainan ini sering mengalami gangguan pembelahan sel, sehingga pertumbuhannya terhenti di awal.

Sebuah studi yang mengamati embrio IVF menemukan bahwa embrio yang berhenti berkembang punya kemungkinan lebih besar memiliki kelainan kromosom dibandingkan yang terus tumbuh. Risiko ini pun meningkat seiring bertambahnya usia ibu, karena kualitas sel telur menurun dan kesalahan pembelahan kromosom lebih mungkin terjadi.

Kualitas Sel Telur yang Menurun

Kualitas sel telur adalah kunci utama keberhasilan IVF. Meski jumlah sel telur yang didapat bisa banyak, tidak semuanya berkualitas baik. Sel telur yang kurang prima akan menghasilkan embrio yang sulit berkembang atau berhenti di tahap awal pembelahan.

Penurunan kualitas ini umumnya berkaitan dengan faktor usia. Semakin tua usia ibu, semakin tinggi pula risiko kelainan kromosom dan semakin rendah peluang keberhasilan program bayi tabung.

Kualitas Sperma yang Kurang Optimal

Selama ini faktor perempuan sering jadi sorotan utama, padahal sperma pun punya peran penting. Kerusakan DNA sperma, jumlah sperma rendah, atau gangguan pergerakan sperma dapat memengaruhi kualitas embrio yang terbentuk.

Ingat, materi genetik dari sperma dan sel telur bergabung saat pembuahan. Jika salah satunya bermasalah, perkembangan embrio bisa ikut terganggu.

Gangguan Proses Pembelahan Embrio

Setelah pembuahan, embrio harus melewati tahap perkembangan dari satu sel menjadi banyak sel hingga mencapai blastokista. Namun, tidak semua embrio mampu melewati proses rumit ini.

Studi yang dipresentasikan dalam pertemuan American Society for Reproductive Medicine (ASRM) menunjukkan banyak embrio berhenti berkembang sebelum blastokista, dan hal ini sering dikaitkan dengan kelainan kromosom.

Faktor Laboratorium IVF

Perkembangan embrio tidak hanya bergantung pada kondisi biologis pasangan, tetapi juga lingkungan laboratorium tempat embrio dikultur. Suhu, kualitas udara, media kultur, hingga prosedur penanganan embrio harus dijaga dengan ketat.

European Society of Human Reproduction and Embryology (ESHRE) menekankan pentingnya standar kualitas laboratorium IVF, termasuk dalam proses kultur embrio, identifikasi bahan biologis, dan prosedur transfer embrio demi keamanan serta kualitas layanan.

Faktor Genetik dari Orang Tua

Pada sebagian pasangan, kegagalan perkembangan embrio bisa berkaitan dengan faktor genetik yang diwariskan. Jika dokter menemukan indikasi tertentu, pasangan dapat menjalani konseling genetik atau pemeriksaan seperti preimplantation genetic testing for aneuploidy (PGT-A) untuk memeriksa kondisi kromosom embrio sebelum transfer.

Penyebab yang Belum Diketahui

Meski teknologi IVF semakin canggih, masih ada kasus embrio gagal berkembang tanpa sebab yang jelas. Perkembangan embrio adalah proses yang sangat kompleks, melibatkan banyak faktor, sehingga tidak semua kegagalan bisa dijelaskan hanya dari satu pemeriksaan.

Apakah Ini Berarti IVF Pasti Gagal?

Tidak selalu, Bunda. Kegagalan di satu siklus bukan akhir dari segalanya. Dokter biasanya akan melakukan evaluasi menyeluruh untuk mencari faktor yang bisa diperbaiki sebelum mencoba siklus berikutnya. Pemeriksaan bisa meliputi kualitas sel telur, sperma, kondisi rahim, hingga evaluasi laboratorium.

Memang tidak semua penyebab bisa dicegah, terutama yang berkaitan dengan faktor kromosom alami. Namun, ada beberapa langkah yang bisa membantu meningkatkan peluang mendapatkan embrio berkualitas:

  • Menjaga berat badan ideal.
  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
  • Menghindari rokok dan alkohol.
  • Mengelola penyakit seperti diabetes atau gangguan tiroid.
  • Mengikuti anjuran dokter soal obat dan suplemen.
  • Memilih klinik fertilitas dengan standar laboratorium yang baik.

Semoga informasi ini bermanfaat dan memberi kekuatan untuk Bunda yang sedang menjalani program IVF. Tetap semangat, ya!