Kanker endometrium adalah jenis kanker yang tumbuh di lapisan terdalam rahim, menyumbang sekitar 90 persen dari seluruh kasus kanker rahim. Di Indonesia, kanker ini menempati peringkat ketiga kanker ginekologi setelah kanker serviks dan ovarium, dan angkanya terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Meski kerap dikaitkan dengan perempuan menopause, kanker endometrium juga bisa terjadi pada usia produktif. Faktor ketidakseimbangan hormon, terutama kelebihan estrogen, menjadi pemicu utama. Beberapa kondisi seperti obesitas, diabetes, hipertensi, dan gaya hidup tinggi gula juga meningkatkan risikonya.

Bisakah Tetap Hamil Setelah Diagnosis?

Kabar baiknya, bagi perempuan muda yang belum sempat memiliki anak, ada harapan. Terapi hormonal yang disebut fertility-sparing therapy memungkinkan kanker diobati tanpa harus mengangkat rahim. Pendekatan ini bertujuan mengontrol pertumbuhan sel kanker dengan mengatur kadar hormon melalui obat minum, suntikan, atau IUD hormonal.

Tapi tidak semua pasien bisa menjalani terapi ini. Syaratnya antara lain: usia di bawah 40 tahun, derajat diferensiasi sel kanker yang baik, dan belum ada penyebaran ke otot rahim. Jika memenuhi kriteria, pasien akan menjalani evaluasi dengan USG setelah 3–6 bulan. Bila hasilnya positif, kehamilan bisa segera direncanakan.

Proses Kehamilan Setelah Terapi

Setelah terapi berhasil, kehamilan tidak harus melalui program bayi tabung, tetapi metode ini dianggap lebih efektif dibandingkan menunggu hamil alami. Selama hamil, tidak diperlukan penanganan khusus selain menjaga pola makan dan gaya hidup sehat untuk mencegah komplikasi seperti diabetes.

Setelah melahirkan, biasanya dokter akan menyarankan pengangkatan rahim sebagai langkah pencegahan. Keputusan ini tentu perlu didiskusikan secara mendalam dengan tim medis.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Gejala utama kanker endometrium meliputi:

  • Perdarahan vagina setelah menopause
  • Perubahan pola haid, seperti perdarahan sangat banyak atau flek di luar jadwal
  • Keputihan abnormal atau bercampur darah
  • Nyeri panggul atau perut bagian bawah
  • Rasa sakit saat berhubungan intim atau buang air kecil
  • Perut bagian bawah terasa begah karena rahim membesar

Jika kamu mengalami gejala-gejala tersebut, jangan ragu untuk berkonsultasi ke dokter. Deteksi dini sangat membantu keberhasilan pengobatan dan menjaga peluang memiliki buah hati.