Di tengah terik matahari California, Great Park di Irvine berubah menjadi lautan bunga daisy pada akhir Agustus lalu. Ribuan perempuan dengan mahkota bunga di rambut, gaun bermotif flora, dan gelang persahabatan buatan sendiri memadati area festival. Mereka datang untuk merayakan musik, tetapi juga untuk merasakan pengalaman berbeda dari festival pada umumnya.

Lebih dari Sekadar Panggung Musik

Daisy Chain Fields, festival yang digagas oleh Olivia Rodrigo, berhasil menarik sekitar 45.000 pengunjung dalam satu hari. Yang membuatnya istimewa, semua penampil adalah musisi perempuan dengan genre yang sangat beragam. Ada rock alternatif era 90-an dari Garbage dan The Breeders, rap enerjik dari Doechii, punk riot-grrrl dari Bikini Kill, pop queer dari Chappell Roan, hingga indie-pop melankolis dari Mitski dan Rodrigo sendiri.

Namun, yang paling mencolok adalah bagaimana festival ini dirancang tanpa hierarki. Tidak ada jadwal yang berbenturan, sehingga penonton bisa menikmati semua pertunjukan tanpa harus memilih. Bahkan di poster resmi, semua nama musisi ditulis dengan font dan ukuran yang sama. Legenda rock dan pendatang baru berdiri sejajar di panggung yang sama.

Menurut Emma Madden, jurnalis musik dari The Guardian, industri musik selama ini sering menjebak musisi perempuan dalam persaingan tidak sehat. Mereka selalu dibanding-bandingkan, baik dari segi pencapaian maupun label yang menaungi. Laporan Book More Women tahun 2025 menunjukkan bahwa hanya 21,6 persen headliners festival musik besar dunia adalah perempuan.

Eli, penyanyi indie berusia 25 tahun yang menjadi salah satu penampil termuda, menyebut festival ini sebagai lingkungan yang tidak terlalu kompetitif dan kapitalistik. "Di sini, karya seni perempuan diterima dan dihargai dengan cara yang berbeda," ujarnya.

Sisterhood dan Aksi Nyata

Daisy Chain Fields bukan sekadar acara komersial. Rodrigo merancangnya sebagai gerakan sosial yang inklusif. Ia terinspirasi oleh imajinasi sederhana tentang perempuan yang duduk di bawah pohon, merangkai bunga daisy, dan membuat gelang persahabatan. Visi itu ia wujudkan dalam bentuk panggung bersama yang merayakan kebersamaan lintas genre dan generasi.

"Daisy Chain Fields diciptakan untuk merayakan kekuatan luar biasa yang lahir ketika kita semua bersatu dan saling mendukung," kata Rodrigo kepada Billboard.

Dukungan itu tidak berhenti di atas panggung. Semua musisi yang tampil sepakat untuk tidak menerima bayaran profesional. Seluruh keuntungan bersih festival, yang mencapai 20 juta dolar AS atau sekitar Rp354 miliar, didonasikan utuh kepada 10 organisasi non-profit yang fokus pada hak-hak perempuan dan kelompok rentan. Dua di antaranya adalah Planned Parenthood dan Jhpiego, yang menyediakan layanan kesehatan kritis di lebih dari 35 negara.

Menghormati Warisan Lilith Fair

Rodrigo mengakui bahwa festival ini tidak lepas dari jejak perjuangan musisi perempuan sebelumnya. Ia secara khusus terinspirasi oleh Lilith Fair, festival tur serba perempuan yang digagas Sarah McLachlan pada akhir 1990-an. Lilith Fair membuktikan bahwa festival dengan penampil perempuan bisa sukses secara finansial dan membawa perubahan sosial.

Keterlibatan Rodrigo dalam film dokumenter Lilith Fair: Building a Mystery tahun 2025 memperkuat ikatannya dengan warisan tersebut. Ketika merencanakan festivalnya sendiri, Sarah McLachlan adalah orang pertama yang ia hubungi untuk meminta restu dan masukan.

Perlawanan di Tengah Krisis

Festival ini hadir di tengah ancaman terhadap hak-hak perempuan di berbagai belahan dunia, termasuk Amerika Serikat. Pemerintahan yang ultra-maskulin dan fasis membuat perjuangan perempuan semakin sulit. Daisy Chain Fields menjadi bentuk perlawanan yang elegan: merayakan kekuatan perempuan dengan cara yang indah dan bermakna.

Dengan bunga daisy sebagai simbol, festival ini mengajarkan bahwa solidaritas dan dukungan antarperempuan adalah kunci untuk menghadapi tantangan zaman. Seperti rantai bunga yang saling terhubung, kita semua bisa menjadi kekuatan yang tak terpisahkan.