Siapa sangka, kondisi tubuh ibu saat hamil bisa berdampak hingga tumbuh kembang anak di kemudian hari? Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Brain, Behavior, and Immunity mengungkap bahwa kadar lemak tubuh yang lebih tinggi selama kehamilan berhubungan dengan peningkatan peradangan dalam tubuh. Nah, peradangan inilah yang kemudian diduga menjadi pemicu munculnya lebih banyak gejala ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) pada balita.

Hubungan Lemak Tubuh Ibu dan ADHD pada Anak

Studi meta-analisis sebelumnya memang sudah menunjukkan bahwa anak yang lahir dari ibu dengan kelebihan berat badan atau obesitas saat hamil memiliki kemungkinan 30 hingga 60 persen lebih besar untuk didiagnosis ADHD dibandingkan anak dari ibu dengan berat badan ideal. Namun, penelitian ini mencoba menggali lebih dalam mekanisme biologis di balik hubungan tersebut.

Jaringan lemak atau adiposa dalam tubuh kita ternyata bukan sekadar penyimpan energi, lho. Jaringan ini aktif memproduksi molekul imun yang disebut sitokin. Ketika kadar lemak tubuh meningkat, produksi sitokin juga ikut naik, sehingga memicu peradangan sistemik tingkat rendah yang berkepanjangan.

Nah, saat hamil, peradangan ini bisa ikut beredar dalam darah ibu dan memengaruhi lingkungan janin yang sedang berkembang. Peningkatan sitokin juga dapat mengubah fungsi plasenta dan komposisi cairan amnion, yang berhubungan dengan perkembangan otak janin dan kerentanan terhadap gangguan perkembangan saraf seperti ADHD.

Kata Peneliti tentang Studi Ini

Profesor Elinor Sullivan dari Oregon Health & Science University, yang terlibat dalam penelitian ini, mengaku selalu terpesona dengan gagasan bahwa perkembangan otak dimulai sebelum anak lahir. Menurutnya, lingkungan prenatal memainkan peran penting dalam membentuk kesehatan seumur hidup, namun masih banyak yang belum dipahami tentang bagaimana faktor-faktor seperti nutrisi ibu, kesehatan metabolisme, stres, dan kesehatan mental memengaruhi perkembangan otak janin.

Sullivan berharap studi ini bisa membantu mengidentifikasi faktor-faktor yang bisa dimodifikasi selama kehamilan untuk meningkatkan perkembangan anak. "Jika kita dapat lebih memahami pengaruh awal ini, kita berpotensi untuk merancang intervensi yang mendorong perkembangan otak yang sehat sebelum gejala gangguan perkembangan saraf muncul," ungkapnya.

Bagaimana Studi Ini Dilakukan?

Penelitian ini melibatkan 297 ibu hamil dan 302 anak. Pada trimester kedua, tepatnya antara minggu ke-24 dan ke-26 kehamilan, para ibu diminta mengisi kuesioner perilaku dan menjalani penilaian biologis. Tim peneliti lalu mengukur persentase lemak tubuh ibu menggunakan metode presisi bernama air displacement plethysmography, yang mampu melacak kepadatan tubuh secara akurat untuk menentukan rasio lemak dan otot.

Untuk menilai peradangan, peneliti mengambil sampel darah puasa dan menganalisis plasma untuk melihat panel sitokin yang lengkap. Hasilnya kemudian dikelompokkan menjadi satu skor peradangan menyeluruh. Selama analisis, mereka juga mengontrol berbagai variabel seperti pendapatan keluarga, pendidikan ibu, gejala ADHD ibu, tekanan psikologis pasca persalinan, dan perilaku pengasuhan.

Temuan Utama: Lemak Tubuh Jadi Pendorong Utama

Hasilnya cukup mengejutkan. Kadar lemak tubuh ibu yang lebih tinggi selama trimester kedua memang dikaitkan dengan peningkatan peradangan. Namun, yang menarik, kualitas diet dan tekanan psikologis tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan peradangan jika dipertimbangkan bersamaan dengan lemak tubuh. Artinya, lemak tubuh ibu menjadi pendorong utama peningkatan penanda inflamasi selama kehamilan.

Sullivan sendiri mengaku awalnya menduga bahwa obesitas, nutrisi, dan stres selama kehamilan semuanya akan berhubungan dengan peradangan. Namun, penelitian ini justru menemukan bahwa adipositas ibu memiliki hubungan yang paling kuat. "Saya memperkirakan bahwa obesitas, nutrisi, dan stres selama kehamilan semuanya akan berhubungan dengan peradangan. Namun, kami menemukan bahwa adipositas ibu menunjukkan hubungan yang paling kuat," kata Sullivan kepada PsyPost.

Studi ini memberikan wawasan baru bahwa menjaga komposisi tubuh yang sehat selama kehamilan bukan hanya penting untuk kesehatan ibu, tetapi juga berpotensi memengaruhi perkembangan otak anak. Meski begitu, bukan berarti ibu hamil harus panik, ya. Yang terpenting adalah menjalani pola hidup sehat, makan bergizi seimbang, dan rutin berkonsultasi dengan dokter kandungan. Semoga informasi ini bermanfaat untuk Bunda sekalian!