Di sebuah toko reparasi di Celukan Bawang, Bali, seorang ibu muda terlihat sibuk melayani pelanggan sambil menggendong anaknya yang masih balita. Namanya Nur, usianya 33 tahun. Saat ditanya tentang usaha reparasi yang dijalankannya, ia sempat merendah, mengaku hanya menjaga toko saat suaminya pergi. Namun, percakapan lebih lanjut mengungkap bahwa Nur paham betul seluk-beluk perbaikan, bahkan ikut memutuskan apakah sebuah barang layak diperbaiki atau sebaiknya ganti baru.

Lebih dari Sekadar Penjaga Toko

Nur bercerita, untuk kipas angin misalnya, ia dan suami sering menyarankan pelanggan membeli baru karena biaya perbaikan mungkin lebih murah, tapi hasilnya tak bertahan lama. Pengakuan ini menunjukkan bahwa Nur bukan sekadar penjaga toko, melainkan mitra usaha yang memahami teknis perbaikan.

Kisah Nur bukan kasus terisolasi. Di Sukawati, Gianyar, ada Mega, 41 tahun, yang bersama suaminya memiliki toko reparasi elektronik. Saat tim kami datang, dua teknisi laki-laki yang sedang sibuk memperbaiki TV dan audio lebih dulu menarik perhatian. Padahal, Mega lah yang paham detail stok spare part, jenis kerusakan yang bisa ditangani, dan keputusan menerima atau menolak pesanan. Ia bahkan rela menolak pelanggan karena keterbatasan suku cadang, meski kadang merasa tidak enak hati.

Kontribusi yang Tersembunyi

Sosiolog Janet Finch menyebut fenomena ini sebagai incorporated wives, yaitu istri yang terserap dalam usaha suami tanpa pengakuan resmi. Finch menekankan, kontribusi istri sering dianggap sebagai hal yang wajar atau bahkan sengaja disembunyikan. Para istri sendiri jarang menuntut pengakuan, karena mereka memandang peran itu sebagai bentuk kemitraan dan dukungan.

Survei lapangan yang dilakukan Kopernik pada awal 2026 terhadap 22 praktisi reparasi di Gerokgak dan Gianyar menemukan hanya empat perempuan di antaranya. Mereka berperan sebagai pemilik toko, penjahit, atau penerima pesanan. Data ini menegaskan bahwa pembagian peran berbasis gender masih kental dalam ekosistem reparasi.

Mengapa Keahlian Perempuan Sering Tak Terlihat?

Akademisi Inggris Cynthia Cockburn menjelaskan bahwa pekerjaan teknis sering dianggap maskulin. Akibatnya, perempuan yang menguasai bidang ini dipandang sebagai pengecualian, bukan hal lumrah. Padahal, kompetensi Nur dan Mega nyata, tetapi pengakuan sebagai teknisi masih sulit didapat.

Kondisi ini bukan hanya soal pengakuan, tapi juga tentang potensi yang terbuang. Jika perempuan seperti Nur dan Mega tidak dianggap sebagai bagian dari sektor reparasi, bagaimana ekosistem ini bisa tumbuh kuat?

Minat Reparasi di Kalangan Perempuan

Kopernik juga mensurvei 223 rumah tangga tentang minat mengikuti lokakarya reparasi sederhana. Hasilnya, 52 persen responden tertarik, dan hampir separuhnya (42,5 persen) adalah perempuan. Ini menunjukkan bahwa perempuan punya minat besar pada perbaikan, tetapi akses dan dukungan masih terbatas.

Riset di 22 bengkel mengungkap bahwa 44 persen barang rusak di Gerokgak dan Gianyar diperbaiki sendiri atau dengan bantuan teknisi informal. Angka ini jauh di atas rata-rata nasional yang hanya 4 persen. Namun, lebih dari separuh barang rusak masih berakhir diganti atau disimpan. Salah satu kendalanya adalah jumlah teknisi yang terbatas. Padahal, survei YouGov 2021 menunjukkan 63 persen masyarakat Indonesia lebih memilih memperbaiki daripada mengganti barang—salah satu angka tertinggi di dunia.

Data ini membuktikan bahwa minat reparasi sudah tinggi, tetapi belum didukung ekosistem yang memadai. Melibatkan lebih banyak perempuan sebagai teknisi bisa menjadi jawaban untuk memperkuat sektor ini. Sudah saatnya kita membuka mata dan mengakui peran penting perempuan di balik meja reparasi.