Bayangkan merasa tidak nyaman dengan tubuh sendiri, tapi takut untuk membicarakannya karena takut dihakimi. Itulah keseharian banyak perempuan dengan Polycystic Ovary Syndrome (PCOS), atau yang dalam kampanye ini disebut PMOS. Kondisi ini bukan sekadar masalah medis, tapi juga beban psikologis dan sosial yang berat.
Menyadari hal ini, sekelompok mahasiswa Marketing Communication dari LSPR Institute of Communication & Business menggagas program bernama Daraloka. Puncak acaranya, 'Asa Dara', baru saja digelar di Tamananda Lifestyle Park, Cilandak, dengan tema yang sangat menggugah: Beyond the Stigma: How Indonesian Culture Shapes Women's Wounds. Tujuannya jelas: mengajak kita semua lebih peduli pada kesehatan hormon perempuan dan menantang stigma yang selama ini membelenggu.
Merayakan Keberanian dan Solidaritas
Acara dibuka dengan sesi yoga khusus untuk para pejuang PMOS, diikuti konferensi pers yang memaparkan visi misi kampanye. Namun, daya tarik utamanya adalah pameran interaktif 'Dara Bersuara'. Di sini, pengunjung diajak menyusuri instalasi visual dan audio yang mengisahkan perjalanan para perempuan menghadapi stigma dan tekanan sosial. Kolaborasi dengan lebih dari sepuluh seniman lokal berhasil menciptakan ruang yang aman untuk berempati dan merasa terhubung.
Talkshow bertajuk 'Menjadi Perempuan' menjadi sesi yang paling dinanti. Para ahli, termasuk dr. Mahatmasara Adhiwasa, Sp.OG, psikolog RA Oriza Sativa, serta tokoh komunitas seperti Prily Soetiman dan Aya Canina, berbicara terbuka tentang bagaimana budaya dan ekspektasi sosial membentuk luka perempuan. Mereka sepakat bahwa pendidikan dan percakapan yang jujur adalah kunci untuk mematahkan stigma.
Membangun Kesadaran Lewat Kreativitas dan Refleksi
Tak hanya mendengarkan, peserta juga diajak berefleksi melalui workshop merangkai gelang dan bunga. Aktivitas sederhana ini ternyata memiliki makna mendalam: simbol dukungan dan self-love. Malam harinya, suasana hangat ditutup dengan karaoke bertema 'No Sad Songs', di mana setiap orang saling memberikan kartu apresiasi. Momen ini mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa ditemukan dalam hal-hal kecil dan dukungan antarsesama.
Melvin Bonardo Simanjuntak, dosen pengampu mata kuliah, menegaskan bahwa Daraloka adalah bukti nyata bagaimana teori dipraktikkan menjadi aksi yang berdampak. Sementara itu, Aya Canina dari komunitas Kata Nona menambahkan, membicarakan PMOS secara terbuka adalah bentuk keberpihakan pada perempuan. Ini sejalan dengan harapan Daraloka: menciptakan lingkungan yang lebih suportif dan bebas stigma.
Kita semua punya peran dalam mengubah cara pandang masyarakat terhadap kesehatan perempuan. Mari mulai dengan mau mendengar, belajar, dan berbagi cerita. Karena di balik setiap stigma, ada perempuan yang layak mendapatkan dukungan dan kasih sayang.