Rumah tangga Larissa Chou dan Ikram Risadi yang baru berjalan tiga tahun harus kandas. Gugatan cerai telah dilayangkan ke Pengadilan Agama Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat. Bukan karena pertengkaran hebat, melainkan karena perasaan sepi yang terus menghantui.

Merasa Sendirian dalam Pernikahan

Menurut kuasa hukum Larissa, Made Rediyudana, kliennya merasa seperti menjalani hidup seorang diri. Beban rumah tangga seolah ditanggung sendiri tanpa kehadiran pasangan yang seharusnya menjadi penopang. Perasaan ini sudah dipendam lama dan mencapai puncaknya pada Oktober 2025.

“Dia merasa sendiri dalam menjalani kehidupan. Selama berumah tangga, semuanya dijalani sendiri. Puncaknya Oktober tahun lalu,” ujar Made. Sejak saat itu, pasangan ini memutuskan pisah rumah, bukan karena cekcok, melainkan karena kelelahan batin.

Keputusan yang Tidak Mudah

Sebelum gugatan diajukan, tim kuasa hukum beberapa kali memastikan apakah Larissa masih ingin mempertahankan pernikahan. Namun, ibu dua anak ini tetap teguh pada keputusannya. “Kami sudah tanya berkali-kali, tapi keputusan ada di tangan Larissa,” tambah Made.

Pelajaran Berharga bagi Pasangan

Kisah ini mengingatkan kita bahwa pernikahan bukan sekadar status, melainkan perjalanan bersama. Kehadiran secara emosional dan fisik sangat penting. Jika salah satu merasa sendiri, komunikasi terbuka menjadi kunci. Jangan biarkan perasaan sepi menggerogoti hingga kehilangan arah.

Bagi para istri, jangan ragu untuk menyuarakan perasaan. Bagi suami, hadirlah bukan hanya secara fisik, tapi juga hati. Karena pernikahan yang harmonis dibangun oleh dua orang yang saling mengisi, bukan berjalan sendiri-sendiri.