Kehamilan ektopik terjadi ketika sel telur yang telah dibuahi menempel dan tumbuh di luar rahim, umumnya di tuba falopi. Kondisi ini tidak dapat berlanjut secara normal dan berisiko pecah, menyebabkan perdarahan hebat. Data terbaru menunjukkan peningkatan kematian ibu akibat kehamilan ektopik, terutama di Amerika Serikat. Meski demikian, bukan berarti jumlah kasusnya meningkat, melainkan keterlambatan penanganan yang jadi sorotan.
Apa Itu Kehamilan Ektopik?
Dalam kehamilan normal, sel telur yang dibuahi akan menempel di dinding rahim. Pada kehamilan ektopik, embrio justru berkembang di luar rahim, seperti di tuba falopi (lebih dari 90% kasus), ovarium, leher rahim, atau rongga perut. Seiring pertumbuhan embrio, tuba falopi dapat pecah dan menyebabkan perdarahan internal yang mengancam jiwa. Karena itu, deteksi dini sangat penting.
Mengapa Kematian Akibat Kehamilan Ektopik Meningkat?
Beberapa faktor diduga berkontribusi terhadap peningkatan kematian akibat kehamilan ektopik. Pertama, keterlambatan diagnosis karena gejala sering muncul sebelum pemeriksaan kehamilan pertama. Kedua, kehamilan ektopik tidak selalu terlihat pada USG awal, sehingga dokter perlu melakukan pemeriksaan ulang. Ketiga, gangguan layanan kesehatan selama pandemi COVID-19 juga memperparah keterlambatan. Namun, penyebab pastinya masih terus diteliti.
Faktor Risiko Kehamilan Ektopik
Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), beberapa kondisi berikut dapat meningkatkan risiko kehamilan ektopik:
- Riwayat kehamilan ektopik sebelumnya
- Operasi pada tuba falopi
- Operasi perut atau panggul
- Infeksi menular seksual (klamidia, gonore)
- Penyakit radang panggul (PID)
- Endometriosis
- Merokok
- Usia di atas 35 tahun
- Riwayat infertilitas
Infeksi menular seksual dapat menyebabkan peradangan dan jaringan parut pada tuba falopi, sehingga menghambat perjalanan sel telur ke rahim.
Dampak Larangan Aborsi terhadap Kematian Ibu
Analisis menunjukkan bahwa angka kematian akibat kehamilan ektopik lebih tinggi di negara bagian AS yang menerapkan larangan aborsi ketat. Meski demikian, ini adalah studi observasional sehingga belum bisa membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung. Faktor lain seperti akses layanan kesehatan juga berperan.
Gejala Kehamilan Ektopik yang Perlu Diwaspadai
Bunda perlu waspada jika mengalami gejala berikut:
- Nyeri perut atau panggul, terutama pada satu sisi
- Perdarahan vagina yang tidak seperti menstruasi biasa
- Nyeri bahu
- Pusing atau lemas berlebihan
- Pingsan
- Nyeri perut hebat yang datang tiba-tiba
Nyeri hebat, pingsan, atau gejala yang memburuk dengan cepat bisa menjadi tanda tuba falopi pecah dan perdarahan internal. Segera cari pertolongan medis!
Penanganan Kehamilan Ektopik
Penanganan kehamilan ektopik bergantung pada lokasi, ukuran, kondisi ibu, dan kadar hormon kehamilan. Jika terdeteksi dini, dokter dapat memberikan obat methotrexate untuk menghentikan pertumbuhan jaringan kehamilan. Namun, jika sudah pecah atau kondisi darurat, operasi mungkin diperlukan. Semakin cepat dikenali, semakin baik prognosisnya.
Kapan Harus ke Dokter?
Jika Bunda mendapat hasil tes kehamilan positif dan mengalami nyeri perut atau panggul, terutama pada satu sisi, disertai perdarahan, pusing, nyeri bahu, atau pingsan, segera periksakan diri ke dokter. Jangan tunda hingga nyeri memburuk. Kehamilan ektopik bisa mengancam nyawa jika tuba falopi pecah.
Ingat, kesehatan ibu adalah prioritas. Deteksi dini dan penanganan tepat dapat menyelamatkan nyawa.