"Anak perempuan hanya perlu dilihat, tidak didengar." Kalimat itu masih terngiang di kepala Nadine Alexandra, aktris dan podcaster, yang mengutip pesan ayahnya saat ia kecil. Saat journaling untuk mencari akar ketakutannya berbicara, ia menyadari luka itu masih membekas. "Itu membuat luka yang sangat dalam, dan aku baru mulai mengobatinya. Aku masih berusaha merebut kembali suaraku," ujarnya.

Dalam sistem patriarki, perempuan sering dibatasi sejak dini. Di sekolah, mereka diremehkan; di dunia kerja, tidak dianggap serius. Pengalaman ini memicu impostor syndrome, kondisi psikologis saat seseorang meragukan kemampuannya sendiri. Nadine dan Hannah Al Rashid, melalui podcast Sini, Sis!, berbagi pengalaman di Sisterhood Festival (5/9) di Meltingpop, Mbloc, Jakarta Selatan.

Akar Masalah: Pola Asuh dan Bias Gender

Hannah menyoroti bahwa impostor syndrome harus dibongkar dari akarnya. "Kita dididik dengan bias gender yang nyata," katanya. Nadine pun mengalami pembatasan di sekolah. Saat aktif di kelas, ia ditegur gurunya, "Nadine, you're overconfident," sementara siswa laki-laki tidak diperlakukan sama. Merujuk buku The Authority Gap karya Mary Ann Sieghart, Hannah menjelaskan bahwa perempuan tumbuh tanpa rasa percaya diri karena sering dibilang "calm down" atau "perempuan tempatnya di situ dan diam", berbeda dengan anak laki-laki yang didorong berekspresi.

Di dunia kerja, tantangan berlanjut. Nadine beberapa kali dipermalukan oleh atasannya di depan umum. "Itu sangat meyakinkan bahwa aku pantas dipermalukan, bahwa ada yang salah denganku," kenangnya. Impostor syndrome sulit dihadapi karena manusia lebih mudah menginternalisasi hal buruk tentang diri sendiri.

Cara Menghadapi Impostor Syndrome

Nadine dan Hannah berbagi strategi untuk melawan keraguan. Hannah membangun kepercayaan diri dengan melakukan hal yang disukai, belajar dari berbagai sumber, dan berteman dengan orang-orang yang menjadi ruang aman. Ketika dipilih untuk sebuah proyek, ia mengubah pola pikir: "Mereka memilihku karena suatu alasan. Aku harus percaya diri dan membuktikan bahwa aku layak."

Nadine menambahkan sudut pandang dari konten TikTok @vanessadomslife. Alih-alih terjebak mencari penyebab, ia membingkai ulang impostor syndrome sebagai peluang untuk mengembangkan diri. "Mungkin kamu merasa seperti impostor karena kamu memang impostor? Tapi tidak apa-apa. Jika ingin menjadi penulis, apakah kamu menulis setiap hari? Apakah kamu membaca semua yang perlu kamu baca?" ujarnya. Menunggu dunia berubah butuh waktu lama, jadi memperbaiki kualitas diri adalah kunci.

Nadine menegaskan, kurangnya kemampuan hanyalah bagian dari perjalanan. "Masih ada yang bisa kupelajari. Aku belum sampai di titik akhir destinasiku."

Bagi para ibu, penting untuk menyadari bahwa pola asuh dan lingkungan dapat memengaruhi rasa percaya diri anak perempuan. Berikan dukungan, dengarkan suara mereka, dan ajak mereka berekspresi tanpa batasan gender. Dengan begitu, kita dapat membantu generasi perempuan berikutnya tumbuh tanpa impostor syndrome.

Reporter: Maya Handayani