Kabar Baik! Kontrasepsi Pria Tanpa Hormon Mulai Dikembangkan

Penulis: Anisa Wahyuni
Senin, 14 September 2026 | 19:04:00 WIB

Bayangkan sebuah alat kontrasepsi yang dipasang hanya dalam 15 menit, tanpa hormon, dan bisa dilepas kapan saja bila ingin punya anak. Itulah gambaran alat kontrasepsi pria bernama STEOM yang sedang dikembangkan oleh tim peneliti di Lille, Prancis. Inovasi ini menjadi sorotan karena menawarkan pendekatan berbeda dari metode yang sudah ada.

Mekanisme Kerja STEOM

STEOM bekerja secara mekanis, mirip dengan IUD pada perempuan. Alat ini menghambat perjalanan sperma tanpa mengubah kadar hormon atau mematikan kesuburan secara permanen. Pemasangannya dilakukan melalui sayatan kecil di skrotum dengan anestesi lokal, dan menurut pengembangnya, tidak memerlukan jahitan atau perban besar. Setelah terpasang, STEOM dapat bertahan hingga tiga tahun, lalu dilepas atau diganti oleh tenaga medis terlatih.

Mengapa Inovasi Ini Penting?

Selama ini, pilihan kontrasepsi pria sangat terbatas: kondom, metode alami, atau vasektomi yang cenderung permanen. STEOM hadir sebagai alternatif yang lebih fleksibel dan menjawab isu kesetaraan beban kontrasepsi. Proyek yang dipimpin oleh androlog Julie Prasivoravong ini melibatkan Lille University Hospital dan University of Liège.

Tahapan Uji dan Ketersediaan

Uji praklinis dimulai Mei 2026 di University of Liège. Jika berhasil, uji klinis akan melibatkan sekitar 100 sukarelawan di Prancis dan Belgia. Namun, karena harus melewati regulasi ketat sebagai perangkat medis, STEOM diperkirakan baru tersedia komersial dalam 7-10 tahun.

Respons Publik dan Diskusi Gender

Di media sosial, banyak perempuan menyoroti kontras antara kontrasepsi pria yang bebas hormon dengan pengalaman mereka menggunakan pil KB hormonal yang kerap menimbulkan efek samping seperti kenaikan berat badan, migrain, penurunan libido, hingga perubahan mood. Meski begitu, kehadiran STEOM dianggap langkah positif menuju pembagian tanggung jawab yang lebih seimbang.

Dengan segala potensinya, STEOM bukan sekadar inovasi medis, melainkan juga membuka ruang dialog tentang tanggung jawab bersama dalam kontrasepsi dan pentingnya mendengarkan kebutuhan tubuh.

Reporter: Anisa Wahyuni