Di antara lautan massa di depan Gedung DPR/MPR, tiga perempuan paruh baya, Olivia, Tata, dan Imelda, berdiri tegap. Mereka bukan wajah baru dalam aksi. Sejak 1998, saat masih berstatus mahasiswa, mereka sudah akrab dengan terik matahari dan teriakan lantang. Kini, sebagai ibu-ibu, semangat itu tak luntur. “Dulu kami demo, sekarang kami masih demo. Yang kami lawan, masih itu-itu juga,” ujar Tata dengan nada getir.

Keresahan mereka kali ini tertuju pada kebijakan pemerintahan Prabowo Subianto. Salah satu yang paling memantik kekesalan adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Bukan tanpa alasan, mereka masih ingat kasus penemuan benda diduga peluru di daging MBG yang dialami seorang siswa SD di Lampung Utara. “Sampai ada peluru di makanan anak? Itu artinya tidak ada kontrol kualitas yang benar. Ini sudah keterlaluan,” sesal Olivia.

Imelda menambahkan, ia semakin skeptis karena program-program pemerintah terkesan tanpa evaluasi. “Mereka sepertinya hanya ingin menjadi presiden, bukan pemimpin yang mau membenahi negara,” sindirnya. Tata pun mengamini, “Kita ini muak.”

Namun, aksi 27 Agustus bukan hanya tentang orasi dan teriakan. Di sela-sela kerumunan, ada gerakan-gerakan kecil yang tak kalah bermakna. Relawan dari kelompok Nadi Perempuan, misalnya, terlihat sibuk membagikan air mineral dan makanan. Mereka juga menyiagakan obat-obatan dan oksigen untuk siapa saja yang membutuhkan. Nanda, koordinator logistik, menceritakan bahwa timnya baru terbentuk 24 jam sebelum aksi. Tiga puluh lima orang, sebagian besar perempuan, dengan baju pink seragam, langsung bergerak tanpa saling mengenal sebelumnya.

“Kami kumpulkan donasi, ternyata terkumpul Rp2,1 juta lebih. Uang itu kami pakai untuk transportasi, membeli obat, oksigen, dan mencetak poster. Ada juga titipan dari warga yang lewat,” jelas Nanda. Menurutnya, kehadiran mereka adalah bukti bahwa perempuan bisa berkontribusi dengan caranya sendiri. “Tidak harus selalu berteriak di depan. Dari rumah pun bisa membantu dengan menyebarkan informasi di media sosial.”

Di sudut lain, dua perempuan muda, Galuh dan Khusna, berjalan menyusuri area aksi sambil memunguti sampah. Mereka membawa kantong plastik hitam besar, memasukkan botol dan bungkus makanan yang berserakan. Sebelumnya, mereka sempat membagikan makanan hasil kolaborasi dengan Dapur Umum Jakarta. Galuh mengaku ini langkah besar baginya. “Kami ambil cuti kerja untuk datang ke sini. Kami tidak berani sampai ke barisan depan, tapi ini yang bisa kami lakukan,” ujarnya.

Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa partisipasi perempuan dalam aksi tidak melulu soal menyuarakan protes. Lebih dari itu, mereka hadir dengan kepedulian, solidaritas, dan cara-cara kreatif untuk menyampaikan pesan. Mereka adalah bukti bahwa kekuatan perempuan terletak pada keberanian untuk hadir, dalam bentuk apa pun itu.

Reporter: Maya Handayani