Saat Berlari di Jakarta, Kita Justru Menghirup Risiko

Penulis: Fadila Utami
Jumat, 07 Agustus 2026 | 13:06:00 WIB

Beberapa waktu lalu, aku memutuskan untuk lari santai di kawasan Gelora Bung Karno (GBK) seperti biasa. Tapi ada yang berbeda hari itu. Jam tanganku menunjukkan detak jantung mencapai 179 bpm, padahal biasanya hanya 155 bpm untuk kecepatan yang sama. Keringatku pun mengucur deras, jauh lebih banyak dari biasanya. Awalnya aku mengira ini karena kurang tidur atau mungkin kurang pemanasan. Tapi ternyata, teman-teman pelari lain juga mengalami hal serupa.

Bagus, seorang pelari yang sudah terbiasa dengan jarak jauh, mengaku detak jantungnya melonjak drastis hanya dengan pemanasan ringan. "Belum mulai aja heart rate-ku bahkan udah 150-an loh ini," ujarnya heran. Kami berdua akhirnya sadar: ini bukan soal kondisi fisik kami, melainkan cuaca dan udara yang sedang tidak bersahabat.

Polusi dan Panas: Musuh Tersembunyi Para Pelari

Berdasarkan data yang ada, kualitas udara Jakarta sering kali berada di level tidak sehat. Salah satu hari yang kuingat, konsentrasi partikel halus PM2,5 mencapai 102 mikrogram per meter kubik, jauh di atas batas aman yang direkomendasikan WHO. Angka ini bahkan 20 kali lebih tinggi dari standar tahunan yang seharusnya.

Tidak hanya polusi, suhu udara yang tinggi juga menjadi tantangan. Musim kemarau membuat suhu Jakarta meningkat, dan ini berdampak langsung pada tubuh kita. Para ahli kesehatan memperingatkan bahwa kombinasi polusi dan panas bisa memicu heat stress dan gangguan pernapasan, terutama saat kita berolahraga.

Semangat Lari vs Lingkungan yang Tak Mendukung

Memang, tren lari di Indonesia sedang naik daun. Data dari Garmin menunjukkan peningkatan aktivitas lari hingga 46% dibanding tahun lalu. Banyak orang, termasuk aku, memilih lari sebagai olahraga praktis yang murah dan bisa dilakukan kapan saja. Namun, semangat ini seperti berhadapan dengan tembok ketika lingkungan tidak mendukung.

Yuyun Harmono dari Greenpeace Indonesia menyoroti hal ini. Menurutnya, pemerintah perlu lebih serius mengatasi masalah polusi udara yang sistemik, seperti emisi industri dan penggunaan batu bara. Ia juga mengingatkan agar pelari tidak memaksakan diri saat cuaca ekstrem, karena tujuan kita adalah sehat, bukan malah sakit.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Meski tanggung jawab terbesar ada di pemerintah, sebagai individu kita juga bisa mengambil langkah bijak. Cek kualitas udara sebelum keluar rumah, pilih waktu lari yang lebih sejuk seperti pagi atau malam hari, dan jangan ragu untuk mengurangi intensitas saat polusi sedang tinggi. Yang terpenting, dengarkan tubuhmu. Jika napas terasa berat atau jantung berdebar tak beraturan, itu tanda untuk berhenti sejenak.

Berlari mencari sehat di Jakarta bukan berarti harus berani melawan polusi. Ini tentang bagaimana kita bisa tetap aktif tanpa mengorbankan kesehatan. Semoga saja ke depannya pemerintah bisa memberikan lingkungan yang lebih baik untuk kita semua, karena hidup sehat bukan hanya soal olahraga, tapi juga soal udara yang kita hirup.

Reporter: Fadila Utami