Selama kehamilan, tubuh ibu banyak berubah dan tak jarang muncul keluhan seperti nyeri atau demam. Asetaminofen atau parasetamol menjadi salah satu obat yang paling sering diresepkan karena dianggap aman. Namun, belakangan beredar kekhawatiran bahwa obat ini bisa berdampak buruk pada bayi, bahkan dikaitkan dengan autisme.

Fakta Terbaru dari Penelitian

Studi yang dipublikasikan di American Journal of Epidemiology meneliti lebih dari 8.900 pasangan ibu dan bayi di Amerika Serikat. Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan asetaminofen selama kehamilan tidak meningkatkan risiko kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, atau ukuran bayi kecil untuk usia kehamilan. Malah, ada indikasi bahwa penggunaan asetaminofen justru menurunkan kemungkinan bayi lahir dengan berat badan besar.

Peneliti utama, Rebecca Fry dari Gillings School of Global Public Health, mengatakan temuan ini memberikan jaminan penting bagi ibu hamil. Sekitar 59 persen partisipan studi melaporkan mengonsumsi asetaminofen saat hamil, dan analisis menunjukkan tidak ada hubungan negatif dengan indikator kesehatan bayi.

Aman, Tapi Tetap Bijak

Meski begitu, para ahli menekankan pentingnya konsultasi dengan dokter sebelum minum obat apa pun. Dosis yang dianjurkan adalah jumlah minimum yang diperlukan, misalnya 1-2 tablet (500-1000 mg) per hari, maksimal 4 kali dalam 24 jam. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) pun menyetujui asetaminofen sebagai pengobatan lini pertama untuk ibu hamil.

James Cusack, kepala eksekutif Autistica, juga menegaskan tidak ada bukti kuat bahwa parasetamol menyebabkan autisme. Ia mengingatkan bahwa autisme adalah kondisi kompleks yang tidak bisa disederhanakan dengan satu faktor.

Kesimpulan

Studi ini menambah keyakinan bahwa asetaminofen aman digunakan selama kehamilan untuk meredakan nyeri atau demam. Namun, tetap utamakan konsultasi dengan dokter dan jangan pernah melebihi dosis yang disarankan. Kesehatan ibu dan bayi adalah prioritas utama!