Pernah enggak sih, Bunda, merasa kesal karena harus mengerjakan semua pekerjaan rumah sendirian? Atau justru suami yang ngotot kalau urusan dapur dan bersih-bersih adalah tugas istri? Perdebatan soal pembagian tugas domestik ini memang sering terjadi, bahkan bisa memicu pertengkaran. Lantas, bagaimana sebenarnya pandangan Islam tentang hal ini?

Rasulullah SAW Teladan dalam Membantu Pekerjaan Rumah

Banyak dari kita mungkin membayangkan bahwa suami yang baik adalah yang mencari nafkah, sementara istri mengurus rumah. Tapi, tahukah Bunda bahwa Rasulullah SAW sendiri sering membantu pekerjaan rumah tangga? Aisyah RA pernah ditanya tentang kebiasaan beliau di rumah, dan beliau menjawab, "Beliau adalah manusia biasa. Beliau menjahit pakaiannya sendiri, memerah susu, dan melayani dirinya sendiri." (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Dalam riwayat lain, Aisyah RA juga berkata, "Rasulullah SAW sudah biasa melayani keperluan keluarganya. Ketika waktu salat tiba, beliau keluar untuk mengerjakan salat." (HR Bukhari). Jadi, jelas bahwa beliau tidak menganggap pekerjaan rumah sebagai beban yang hanya untuk istri. Justru, keterlibatan suami dalam urusan domestik adalah bentuk kasih sayang dan perhatian.

Pendapat Ulama: Pekerjaan Rumah Bukan Kewajiban Mutlak Istri

Pertanyaan selanjutnya, siapa sebenarnya yang wajib melakukan pekerjaan rumah? Mayoritas ulama dari empat mazhab besar (Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali) serta Mazhab Zhahiriyah sepakat bahwa seorang istri tidak memiliki kewajiban untuk melayani suami dalam pekerjaan rumah tangga. Artinya, tugas domestik seperti memasak, mencuci, dan membersihkan rumah tidak dibebankan secara hukum kepada istri.

Jika seorang istri dengan sukarela melakukannya, itu adalah amal kebaikan yang bernilai ibadah. Tapi jika ia memilih untuk tidak melakukannya, ia tidak boleh dipaksa. Dalam kitab Badai' Ash-Shanai' karya Al-Imam Al-Kasani (Mazhab Hanafi), disebutkan bahwa jika suami membawa bahan makanan mentah dan istri menolak memasaknya, suami tidak boleh memaksa. Justru suami harus menyediakan makanan yang sudah matang.

Tanggung Jawab Suami dalam Rumah Tangga

Lantas, kalau bukan istri, siapa yang bertanggung jawab? Dalam buku The 10 Habits of Rasulullah, Rizem Aizid menjelaskan bahwa pada dasarnya pekerjaan rumah adalah tanggung jawab suami. Namun, karena budaya dan kebiasaan, banyak yang menganggapnya sebagai tugas istri. Padahal, Islam mengajarkan bahwa suami adalah pemimpin keluarga yang harus memenuhi kebutuhan istri, termasuk urusan domestik. Bukan berarti suami harus mengerjakan semuanya sendiri, tapi minimal ia turut membantu atau menyediakan pembantu jika mampu.

Bijak Membagi Tugas demi Keluarga Harmonis

Di Indonesia, pandangan bahwa istri harus mengurus semua pekerjaan rumah masih kuat. Tapi, ingatlah bahwa ini lebih dipengaruhi budaya, bukan ajaran Islam. Sebaiknya, Bunda dan suami duduk bersama untuk berdiskusi dan membagi tugas secara adil. Misalnya, suami bisa membantu mencuci piring, menyapu, atau mengasuh anak. Dengan begitu, beban terasa ringan dan hubungan makin erat. Ingat, tujuan pernikahan adalah menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah, bukan saling membebani.

Kesimpulan

Jadi, sudah jelas ya, Bunda, bahwa dalam Islam pekerjaan rumah bukanlah kewajiban mutlak istri. Suami pun dianjurkan untuk membantu sebagai bentuk kasih sayang. Yang terpenting, semua dilakukan dengan ikhlas dan saling pengertian. Selamat membangun keluarga harmonis!