Setiap orang pasti punya arti sukses yang berbeda. Namun, bagi Gen Z dan milenial di tahun 2026, sukses tidak lagi diukur dari seberapa cepat kamu menduduki posisi manajerial atau seberapa besar gaji yang kamu terima. Survei terbaru dari Deloitte terhadap lebih dari 22 ribu responden di 44 negara menunjukkan perubahan besar dalam cara pandang generasi muda terhadap karier.
Keseimbangan Hidup Jadi Prioritas
Dulu, sukses identik dengan dedikasi penuh pada pekerjaan. Sekarang, Gen Z dan milenial justru menempatkan keseimbangan hidup, kesehatan mental, dan fleksibilitas sebagai prioritas utama. Mereka tidak mau terjebak dalam budaya kerja yang menguras energi tanpa memberikan ruang untuk kehidupan pribadi. Menariknya, hanya sekitar 6 persen responden yang menjadikan posisi pemimpin sebagai target utama karier. Banyak yang menganggap jabatan tinggi membawa tekanan, risiko burnout, dan berkurangnya waktu untuk diri sendiri.
Ambisi Tetap Ada, Tapi dengan Cara Sehat
Meski tidak terburu-buru mengejar posisi puncak, bukan berarti ambisi mereka pudar. Sebanyak 76 persen Gen Z dan 67 persen milenial mengaku tetap ingin menduduki posisi senior atau kepemimpinan di masa depan. Hanya saja, mereka ingin mencapainya dengan cara yang lebih sehat. Keseimbangan hidup, fleksibilitas kerja, dan kesehatan mental menjadi pertimbangan penting sebelum mengambil tanggung jawab yang lebih besar. Survei juga menemukan bahwa para pemimpin yang sudah berada di posisi tersebut justru melaporkan kesehatan mental yang lebih baik dan keseimbangan kerja yang positif. Artinya, persepsi negatif terhadap jabatan kepemimpinan tidak sepenuhnya benar.
AI Jadi Sahabat Karier
Selain mengubah definisi sukses, Gen Z dan milenial juga menjadi kelompok yang paling cepat mengadopsi kecerdasan buatan (AI). Mereka menggunakan AI untuk meningkatkan produktivitas, mengembangkan keterampilan, mencari saran karier, hingga mengelola stres. Kemampuan beradaptasi kini menjadi kompetensi utama di dunia kerja. Banyak pekerja muda percaya bahwa AI akan mengotomatisasi tugas-tugas rutin, sehingga mereka bisa lebih cepat terlibat dalam pekerjaan bernilai tinggi. Namun, hampir sepertiga responden menilai perusahaan mereka belum siap menghadapi transformasi AI, terutama dalam hal pelatihan dan dukungan perangkat.
Makna dan Tujuan Kerja Lebih Penting dari Gaji
Bagi Gen Z dan milenial, pekerjaan bukan sekadar sumber penghasilan. Hampir seluruh responden menegaskan bahwa memiliki tujuan yang jelas dan mampu memberikan dampak positif melalui pekerjaan merupakan faktor penting dalam kepuasan kerja. Bahkan, tidak sedikit yang bersedia menolak tawaran pekerjaan jika perusahaan atau peran yang ditawarkan tidak sejalan dengan nilai-nilai mereka. Makna dan tujuan kerja kini sama pentingnya dengan kompensasi finansial.
Hubungan Sosial di Kantor Tingkatkan Loyalitas
Selain tujuan yang bermakna, rasa memiliki dan hubungan sosial di lingkungan kerja juga menjadi faktor penting. Survei menunjukkan bahwa pekerja yang memiliki pertemanan dekat di kantor cenderung lebih bahagia dan memiliki tingkat loyalitas tinggi terhadap perusahaan. Mereka juga lebih mungkin bertahan lebih lama dibandingkan karyawan yang tidak memiliki hubungan sosial kuat. Oleh karena itu, budaya kerja yang mendukung kolaborasi dan koneksi antarkaryawan semakin menjadi kebutuhan di era kerja modern.
Perubahan cara pandang ini menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan dalam kehidupan dan karier terus berevolusi. Jika generasi sebelumnya lebih fokus pada pencapaian material dan status pekerjaan, maka generasi saat ini lebih menghargai keseimbangan hidup, kesehatan mental, fleksibilitas, serta kesempatan untuk bekerja sesuai nilai dan tujuan pribadi. Cara Gen Z dan milenial mendefinisikan kesuksesan diperkirakan akan terus membentuk budaya kerja global dan menjadi standar baru bagi Generasi Alpha nantinya.