Mendidik Anak Laki-Laki agar Terhindar dari Ideologi Incel

Penulis: Maya Handayani
Selasa, 15 September 2026 | 17:00:00 WIB

Belakangan ini, istilah incel atau involuntary celibate semakin sering dibicarakan. Kelompok ini dikenal karena kebencian mereka terhadap perempuan, yang dianggap sebagai penyebab segala masalah dalam hidup mereka. Mereka merasa tidak cukup menarik atau sempurna untuk mendapatkan perhatian lawan jenis, lalu melampiaskan frustrasi dengan menyalahkan perempuan.

Gerakan incel mulai mendapat sorotan setelah kasus pembunuhan oleh Elliot Rodger pada 2014. Ia membunuh enam orang sebelum mengakhiri hidupnya sendiri, sebagai bentuk "pembalasan" karena ditolak perempuan. Sejak itu, banyak pengikut incel yang mengidolakannya, dan kasus serupa pun bermunculan, seperti pembunuhan massal di Toronto oleh Alek Minassian pada 2018.

Yang lebih mengkhawatirkan, ideologi ini menyebar secara diam-diam melalui algoritma media sosial, menyasar anak laki-laki dan remaja yang sedang mencari jati diri. Mereka memanfaatkan kecemasan remaja akan penolakan dan tekanan untuk menjadi "laki-laki ideal"—berotot, kaya, atau dominan. Dalam komunitas ini, mereka menemukan validasi dan rasa diterima.

Lalu, bagaimana cara mencegah anak laki-laki terpapar ideologi incel? Berikut beberapa tips yang bisa diterapkan di rumah.

1. Hapus Bias Gender dalam Pengasuhan

Norma maskulinitas yang kaku sering menjadi pintu masuk bagi incel. Anak laki-laki diajarkan untuk selalu tangguh, tidak boleh menangis, dan menghindari sifat feminin. Padahal, tekanan ini bisa berdampak buruk pada kesehatan mental mereka.

Orang tua perlu mematahkan norma tersebut. Misalnya, izinkan anak laki-laki bermain boneka atau memilih pakaian yang mereka suka, tanpa memandang warna atau jenis kelamin. Kegiatan ini membantu anak meregulasi emosi dan belajar empati.

Seperti yang dilakukan Tua Maratua, seorang ayah, ia membebaskan anaknya mengoleksi boneka beruang. Menurutnya, bermain boneka bisa membuat anak lebih tenang dan melatih motorik halus. Sementara Raya, seorang ibu tunggal, tidak melarang anaknya memakai baju warna pink jika anaknya nyaman.

2. Tanamkan Nilai Kesetaraan Gender

Kelompok incel percaya bahwa perempuan harus dikendalikan oleh laki-laki. Untuk menangkalnya, tanamkan sejak dini bahwa semua gender setara. Contohnya, bagi tugas rumah tangga secara adil antara ayah dan ibu, sehingga anak melihat bahwa pekerjaan rumah bukanlah ranah gender tertentu.

Tua bercerita, ia dan istrinya berbagi tugas: ia menemani anak mengerjakan PR, lalu memasak dan mencuci. "Kami tidak melekatkan satu kegiatan rumah tangga hanya pada saya atau istri saya," ujarnya.

Raya menambahkan, anak adalah peniru ulung. Di meja makan, ia biasa melibatkan pendapat ibunya dalam mengambil keputusan, sehingga anak belajar menghormati suara perempuan.

3. Jadilah Teladan yang Baik

Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Tunjukkan sikap menghormati perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, dengarkan pendapat pasangan, bantu pekerjaan rumah, dan hindari kata-kata yang merendahkan perempuan.

Dengan teladan yang konsisten, anak akan tumbuh dengan pemahaman bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak dan peran yang setara.

4. Buka Komunikasi tentang Dunia Digital

Awasi aktivitas online anak dan ajak mereka berdiskusi tentang konten yang mereka konsumsi. Beri pemahaman bahwa tidak semua yang ada di internet itu benar. Jika anak menemukan konten yang merendahkan perempuan, jelaskan mengapa hal itu salah dan berbahaya.

Dengan komunikasi terbuka, anak akan merasa nyaman bercerita dan tidak mudah terpengaruh oleh ideologi negatif.

Melindungi anak dari incel membutuhkan usaha berkelanjutan. Mulailah dari lingkungan keluarga, dan ciptakan rumah yang aman dan setara bagi semua.

Reporter: Maya Handayani