Kamis malam, 27 Agustus, seharusnya menjadi akhir dari rangkaian unjuk rasa damai di depan gedung DPR. Namun, takdir berkata lain. Massa yang mulai membubarkan diri justru terlibat bentrok di sejumlah titik, meninggalkan duka dan tanda tanya besar.
Kronologi Singkat: Dari Damai Menjadi Rusuh
Setelah Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) menyampaikan aspirasi dan meninggalkan area DPR, sebagian demonstran lain masih bertahan. Suasana memanas saat sekelompok orang tak dikenal melempar benda ke arah gerbang DPR. Polisi merespons dengan meriam air, memaksa massa bubar ke berbagai arah, termasuk Slipi dan Pejompongan.
Di flyover Slipi, sekitar pukul 22.30 WIB, terjadi bentrokan. Massa demonstran berhadapan dengan kelompok bertotok wajah, membawa bambu, dan berikat kepala putih. Aksi saling lempar tak terhindarkan. Di tengah kekacauan, video beredar menunjukkan sosok kontroversial, Hercules, turun dari mobil dan berteriak 'pulang' kepada kerumunan. GRIB Jaya, organisasi yang menaunginya, mengklaim itu sebagai upaya persuasif untuk membubarkan perusuh.
Korban Jiwa dan Bantahan yang Membingungkan
Di tengah riuh rendah, kabar duka datang. Bambang Setiyawan (59), warga Bendungan Hilir, ditemukan tak sadarkan diri di Jalan Pejompongan Raya dan meninggal di RS Mintohardjo. Keluarga meyakini ia menjadi korban pengeroyokan. Media sosial langsung ramai menuding GRIB Jaya sebagai pelaku.
Sekjen DPP GRIB Jaya, Zulfikar, membantah keras. Dalam klarifikasinya, ia menyebut Bambang dipukuli oleh demonstran, bukan anggota GRIB. Ia menegaskan anak buahnya berada di lokasi berbeda. Namun, kuasa hukum GRIB, Wilson Colling, mengakui Hercules dan anggotanya hadir di lokasi untuk 'memantau situasi' dan 'menjaga kondusivitas'. Ia memisahkan aksi di DPR yang damai dengan kerusuhan di Slipi yang disebutnya anarkis.
Pertanyaan Besar: Siapa yang Berwenang?
Polda Metro Jaya masih mendalami dugaan keterlibatan ormas dalam pembubaran massa. Kabid Humas, Kombes Pol Budi Hermanto, meminta waktu untuk verifikasi fakta. Sementara itu, advokat Khozinudin menyoroti klaim 'upaya persuasif' GRIB. Menurutnya, menjaga kondusivitas dan pengamanan adalah tugas polisi, bukan ormas, merujuk pada UU Ormas.
Senada, analis kebijakan Virdika Rizky Utama mempertanyakan konsistensi polisi. Dari 322 orang yang ditangkap, 48 di antaranya sudah ditetapkan sebagai tersangka. Ia berharap polisi secepat itu pula dalam mengusut kelompok yang berada di lokasi kerusuhan, termasuk ormas yang terlibat.
Menanti Jawaban di Tengah Duka
Keluarga Bambang menuntut keadilan. Mereka meminta polisi mengusut tuntas kasus ini, termasuk kemungkinan keterlibatan ormas. Hingga kini, belum ada titik terang. Masyarakat pun bertanya-tanya: apakah kericuhan ini murni aksi spontan, atau ada skenario yang lebih rumit? Yang jelas, nyawa melayang dan kepercayaan publik sedang diuji.