Suasana di Kios Ojo Keos, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, pada petang 28 Juli lalu terasa berbeda. Puluhan orang berdiri di luar, sementara di dalam kafe yang juga toko buku itu, pengunjung padat merayapi setiap nada yang diputar. Mereka sedang mendengarkan 'Matilah Kau Mati', single terbaru Efek Rumah Kaca (ERK), yang diputar lewat pengeras suara. Sesekali raungan knalpot terdengar dari jalan, tapi tak ada yang bergeming. Beberapa bahkan memejamkan mata, larut dalam petikan gitar dan vokal Cholil Mahmud yang mengawang.

Lagu ini diadaptasi dari puisi berjudul 'Di Hari Kematianku' dalam novel 'Laut Bercerita' (2017) karya Leila S. Chudori. Awalnya, Leila memberi judul puisi itu 'Di Hari Kematianku', namun Cholil mengusulkan judul baru dari penggalan lirik yang ikonik: 'Matilah Kau Mati'. Leila pun setuju. 'Mas Cholil bilang kenapa enggak judulnya 'Matilah Kau Mati', karena itu sudah ikonik banget,' ujarnya.

Transformasi Luka Jadi Keteguhan

Leila sempat punya rencana cadangan jika Cholil menolak menggarap lagu untuk film. Ia akan meminta izin menggunakan 'Di Udara', lagu ERK yang juga berkisah tentang aktivis yang dibunuh. Tapi Cholil menerima ajakan itu dan lahirlah 'Matilah Kau Mati'. Ini menjadi pengalaman pertama ERK menggarap soundtrack film. 'Ada sih OST Mata Najwa, tapi kan itu bukan film,' kata Cholil.

Setelah mendalami kisah Laut lewat novel dan film pendek, Cholil memilih nuansa tenang dengan kunci Major7, yang biasa dipakai dalam genre shoegaze dan dream-pop. Menurutnya, karakter bunyi itu paling pas untuk emosi yang ingin dihadirkan. Bait tentang penantian, misalnya, tidak perlu dibawakan dengan amarah meledak-ledak. Penantian keluarga dan orang terdekat Laut justru penuh kegelisahan yang perlahan berubah menjadi keteguhan. 'Gua pingin ada kayak ketenangan dalam menunggu, dia mentransformasikan lukanya menjadi sesuatu hal penantian yang lebih adem, enggak yang meledak-ledak, jadi secara tempo emang lebih lambat,' jelas Cholil.

Ia mengibaratkan transformasi itu seperti Maria Catarina Sumarsih, pendiri Aksi Kamisan. 'Kayak ibu Sumarsih saja, dia kan kehilangan (anaknya), terus bisa mentransformasikan rasa hilangnya jadi keberanian, jadi keteguhan untuk terus ada di Aksi Kamisan. Gue juga melihat itu sebagai contoh,' lanjutnya.

Bunyi yang Bercerita

Nuansa tenang tidak hanya dibangun lewat melodi, tapi juga aransemen yang sengaja dibuat minim instrumen. Bas, gitar, dan vokal menjadi tumpuan utama. Kesederhanaan itu memberi ruang bagi lirik untuk berbicara, sementara lapisan bunyi lain hadir secukupnya sebagai penegas suasana. Menariknya, komposisi instrumen diserahkan sepenuhnya kepada Angan Senja, putra Cholil. Sejak awal, Angan ingin menghindari aransemen yang terdengar terlalu kosong. Karena itu, ia menambahkan dengungan dan snare dengan efek delay untuk mengisi ruang tanpa membuat lagu terasa terlalu padat. 'Aku enggak mau lagunya kayak terlalu hollow, so in order to fill the song, ada banyak momen yang pakai dengungan, untuk fill the space without over-produce,' ujar Angan.

Pilihan instrumen itu bukan tanpa alasan. Snare dengan efek delay yang mengikuti tempo lagu, misalnya, digunakan untuk menghadirkan kesan berada di dalam laut. Detail bunyi itu menjadi cara ERK menerjemahkan kisah Biru Laut ke dalam aransemen, tanpa harus dijelaskan lewat lirik. Cholil mengaku sengaja mengajak Angan untuk menghadirkan pendekatan berbeda. 'Dia kalau bikin sound itu memang cukup berani kalau menurut gua. Gue enggak berani sih kalau bikin sound kayak gini. Contoh ada sound kayak lebah, itu kan kita (ERK) enggak pernah melakukan kayak gitu,' ujarnya.

Lahir Berkali-kali

Bagi Cholil, 'Matilah Kau Mati' tak hanya menggambarkan kisah Biru Laut dalam 'Laut Bercerita'. Lagu itu juga terasa dekat dengan situasi sosial politik hari ini, ketika ruang warga untuk menyampaikan pendapat dinilai semakin rentan. 'Intimidasi bisa menyasar siapa saja, termasuk warga yang menyampaikan pendapat melalui akun media sosial pribadi. Massa bayaran, termasuk buzzer, bisa dikerahkan untuk mempersekusi orang yang bersuara,' tutur Cholil.

Namun, di balik kegelisahan itu, lagu ini justru menawarkan ketenangan. Seperti pesan yang ingin disampaikan: meskipun luka dan kehilangan terasa berat, kita bisa mentransformasikannya menjadi keteguhan. 'Matilah Kau Mati' mengajak pendengarnya untuk merenung, bahwa dalam setiap kematian, ada kelahiran kembali yang lebih kuat.

Reporter: Sania Putri